. Alasan kenapa aku merasa agak ragu adalah karena Susan adalah tipe gadis pesta saat kuliah dulu, sedangkan aku kebalikannya.
Setidaknya itu yang kudengar dari beberapa orang dan dari mulutnya sendiri saat dalam kondisi mabuk.
Dia mengaku pernah berpesta dengan sekumpulan teman-temannya yang 'gila' dan 'berpasangan' dengan hampir semua cowok yang hadir.
Aku tak tahu apa yang dia maksud dengan 'berpasangan' tapi kuputuskan untuk tak menanyakannya lebih jauh.
Susan sendiri adalah seorang wanita cantik dengan rambut bergelombang sebahu dan senyuman yang menawan.
Tinggi dan berat tubuhnya rata-rata, dengan paha langsing yang berujung pada pantatnya yang montok kencang.
Dadanya tak begitu besar namun penuh dan bulat.
Aku merasa bangga dengan keindahan tubuhnya dan sering aku menyuruh dia untuk memamerkannya.
Saat pergi ke pantai, selalu kurayu dia agar melepaskan bikini atasnya kala malam hari dan berjalan denganku di sepanjang pantai.
Dan aku merasakan sebuah getaran aneh setiap kali melihat beberapa orang, terutama pria yang berpapasan dengan kami mencuri pandang ke arah dadanya.
Susan selalu berpura-pura merasa malu tapi aku yakin kalau dia menikmati itu semua, sama sepertiku.
Pada malam saat hari pesta tiba, dia memakai tank-top dengan belahan rendah berpadu dengan bawahan lebar selutut.
Dia merasa sangat excited untuk berjumpa dengan teman-teman lamanya.
Kami pergi keluar untuk dinner sebelumnya dan saat dinner, kuperhatikan dia menenggak wine lebih banyak dari biasanya.
Dia selalu jadi horny kalau mengkonsumsi alkohol dan malam ini tak terkecuali.
Saat perjalanan pulang ke rumah, tangannya tak pernah lepas dari selangkanganku.
Tapi aku sedang mengemudi dan aku ingin tiba dengan selamat sampai di rumah, jadi kutepis tangannya.
"Sayang, mungkin aku akan menikmati pestaku dan have some fun malam ini.
Jadi jangan marah, ya?""Apa maksudmu?" tanyaku merasa agak gusar.
"Aku sudah berteman sangat lama dengan teman-temanku ini, wanita dan prianya juga.
Dan kita sudah mengalami banyak hal bersama, jadi mungkin nanti pestanya akan sedikit gila-gilaan dan penuh permainan dengan meraka," ucapnya.
"Ok..." jawabku, tak tahu harus merespon bagaimana.
"Berjanjilah padaku kamu tak akan jealous kalau nanti ada permainan yang agak nakal dan liar berlangsung.
Lagipula kamu selalu menyuruhku untuk memamerkan tubuhku kan?" "Well, baiklah.
Hanya saja, kamu tahu, jangan terlalu gila," jawabku.
"Oh sayang, I love you," jawabnya dan mendekatkan diri padaku untuk memberiku sebuah ciuman di pipi.
Di sisa perjalanan pulang Susan mengganti topik pembicaraan, tapi otakku masih tetap tersangkut pada pestanya nanti.
Memang kuakui aku suka saat dia mempertontonkan keindahan tubuhnya, tapi melakukannya dihadapan orang-orang yang dia kenal, lain lagi jadinya.
Namun, sebesar rasa gundah ini, tak kupungkiri betapa besarnya birahiku sendiri.
Permainan gila dan nakal macam apakah yang dia sebutkan tadi?
Sumber:Internet