. Suasana mulai bertambah berat sekarang, tapi aku tetap tak mampu bergerak.
Sudah sejauh ini aku ikut menikmati semuanya, kurasa akan terlihat sangat konyol jika aku akan menghentikan pesta saat ini.
Sebaliknya, aku palingkan pandangan ke arah Maggie, separuh hatiku berharap saat aku menoleh kembali ke arah Susan, kedua pria itu sudah pergi.
Maggie sedang berdansa dengan Tim, menggoyangkan pantatnya menggoda selangkangan Tim, yang kedua tangannya sedang sibuk bermain dengan payudaranya yang masih tetap tertutup oleh bra.
Maggie lebih terlihat hanya sedang bermain-main saja, meskipun dengan seorang pria yang tengah merabai tubuhnya dan itu membuatku merasa bahwa isteriku sedang menghianatiku.
Saat pandanganku kembali ke arah Susan, pria yang dibelakangnya masih ada, tapi yang di depannya sudah pindah berdansa dengan wanita lainnya lagi.
Aku merasa agak sedikit lega, namun kedua tangan pria yang dibelakangnya itu sekarang sedang berada di dada isteriku, menarik dan memilin kedua putingnya.
Kedua mata isteriku terpejam, tapi aku tak tahu apakah dia tengah menikmati apa yang dilakukan pria itu padanya ataukah hanya sedang menikmati alunan musik saja.
Tiba-tiba saja tangan pria itu bergerak turun ke paha isteriku lagi dan bergerak naik, masuk ke balik roknya.
Isteriku menjerit tercekat dan kemudian tertawa manja, tapi sama sekali tak melakukan sesuatu untuk mencegahnya.
Detik berikutnya tangan pria itu bergerak turun dan kusaksikan dia sedang menarik turunkan celana dalam isteriku.
Terus dia turunkan hingga lututnya lalu membetotnya dengan cepat hingga celana dalam itupun robek.
Pria itu meneriakkan tanda kemenangannya dan melemparkan celana dalam isteriku jauh ke sudut ruang, sedangkan isteriku hanya tertawa saja.
Orang-orang yang melihat kejadian itu bertepuk tangan dan berteriak riuh.
Susan menoleh ke arahku lalu tertawa dan mengangkat jari tengahnya ke arah para pria, kemudian membalikkan ujung roknya cukup tinggi untuk memperlihatkan sekilas vaginanya pada mereka.
Teriakan terdengar semakin bertambah keras dan Susan kembali ke tengah ruangan untuk kembali berdansa dengan beberapa teman wanitanya.
Kurasakan nafasku sesak dan seakan ada ganjalan besar di dadaku.
Isteriku hanya memakai rok dan baru saja mempertontonkan vaginanya kepada teman-tamannya dan itu terjadi setelah seorang pria menggerayangi tubuhnya untuk beberapa lama.
Aku menoleh ke arah Maggie, berharap mungkin dia sama telanjangnya dan itu akan membuatku merasa lebih baik, tapi Maggie masih tetap memakai bra dan jeansnya.
Dia sudah tak berdansa sekarang dan sedang mengobrol dengan beberapa pria dengan ereksi yang terlihat jalas dari balik boxer mereka.
Aku kembali menoleh ke arah Susan.
Dia masih berdansa dengan teman wanitanya, tapi terlihat jelas kalau dia sedang memberikan tontonan pada para pria yang menyaksikannya.
Lagu yang mengalun berirama lumayan cepat dan dia benar-benar memanfaatkan irama tersebut, bergoyang dan meliukkan tubuhnya dengan cepat dan liar.
Payudaranya memantul dan bergoncang serta roknya terkibar naik turun.
Beberapa kali rok tersebut terangkat cukup tinggi dan kembali mempertontonkan vaginanya dengan bebas.
Rambut kemaluannya yang dicukur pendek tampak begitu hitam kontras di atas kulitnya yang putih.
Semua mata para pria tertuju padanya, bahkan para pria yang sedang mengobrol dengan wanita di depannya.
Meskipun sama sexynya dengan para wanita dalam ruangan ini, tapi isteriku satu-satunya yang telanjang dada dan dia juga menyuguhkan sebuah tontonan yang mengalahkan semua yang dilakukan wanita lainnya.
Mereka yang berada di hadapan isteriku mendapatkan suguhan pemandangan payudara dan selangkangannya sedangkan yang berada di belakangnya mendapatkan tontonan pantatnya yang sekal kencang.
Susan terlihat melakukan itu semua dengan sengaja, menggoyangkan pinggulnya dengan liar agar ujung roknya dapat terlempar sedikit naik turun lalu menghentakkannya cukup keras hingga ujung roknya tersibak naik seutuhnya.
Tampak jelas dia nikmati semua perhatian yang dia dapatkan, bisa kulihat vaginanya berkilau oleh basahnya.
Lagunya selesai seiring dengan habisnya CD.
Saat salah seorang wanita mengganti CD, Susan berjalan ke arahku.
Sebelum dapat kuucapkan sepatah kata, dia memelukku erat dan mencium bibirku dengan keras.
Dapat kurasakan payudaranya menempel pada bajuku dan ereksiku yang menyodok ke perutnya.
"Kamu sungguh baik," katanya.
"Aku senang kamu tidak marah pada kelakuan kami yang sedikit gila-gilaan.
"Ingin kukatakan kalau aku mulai merasa marah dan kelihatannya hanya dia saja satu-satunya yang having fun – tak ada seorang wanitapun yang bertelanjang dada kecuali dia! Tapi dia terdengar begitu bahagia saat mengatakan itu semua hingga membuatku hanya diam saja dan cuma. mengangguk.
"Kamu perhatikan teman priaku menggerayangi dadaku tadi? Aku harap kamu melihatnya.
Aku tahu kalau itu membuat kamu horny," ucapnya dengan nada begitu sexy sambil meremas penisku.
Hampir saja aku langsung keluar di celana.
Dengan seringai menggoda, dia berbalik dan kembali ke pesta.
Dia berdansa lagi, meliukkan tubuh indahnya, membuat roknya terangkat dan mempertontonkan vaginanya.
Aku melangkah menuju ruang makan untuk menata perasaanku.
Aku begitu horny, terangsang hebat, tapi juga teramat marah.
Isteriku telah mempertontonkan seluruh bagian tubuh terlarangnya pada sekelompok orang yang tak aku kenal dan aku bahkan tak memiliki keberanian sedikitpun untuk menyikapinya.
Entah bagaimana aku merasa sangat malu karena menjadi terangsang juga.
Kuhabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam di dalam ruang makan hingga akhirnya kuputuskan untuk kembali ke ruang keluarga, kembali ke pesta, berharap suasana akan jadi sedikit mereda.
Sumber:Internet