. Minggu yang cerah, aku masih terbayang bayang kejadian semalam dimana aku dan mba Ririn sampe malam ngbrol bahkan sesekali menyerempet kedalam obrolan seksual.
Aku masih bermalas malasan dirumah agendaku hari ini adalah service mobilku di bengkel langganan ku, aku pelan pelan mengumpulkan nyawaku setelah bangun tidur dan coba untuk memanasi mesin mobil di garasi.
Saat membuka pintu garasi kulihat mba Ririn sudah berdandan rapi, kusapa wanita cantik itu "Pagi mba udah rapi aja nih, mau kemana mba?" "Iya mas mau jemput Dito nih, nunggu taksi online kok lama banget ya" "Emang daerah mana sih mba rumah neneknya Dito?" "Dijalan Jend.
Sudirman mas, belakang hotel no**Tel" "Oalah daerah situ ya, mau bareng apa gimana mba, aku mau lewat kesana juga, mau ke bengkel ini" "Waduh nanti ngrepotin lagi mas" "Ya engga lah mba kan searah to, aku mandi bentar aja mba, tungguin kalo mau, hehe" "Yaudah mas gapapa, daripada kelamaan nunggu taksi kan" "Sip mba, bentar ya.." Aku pun bergegas mandi, dan berpakaian rapi.
Selama perjalanan tak banyak yang aku bicarakan dengan mba Ririn, dia lebih banyak telpon dengan orang tuanya yang sedang mengasuh Dito, tidak sampai 45 menit aku sudah sampai lokasi yang ditunjukkan mba Ririn, seperti biasa pulangny nanti dia akan diantar oleh adik iparnya.
Sampe bengkel aku menunggu diruang tunggu yang cukup nyaman, sampai sampai aku tertidur.
Namun aku dikagetkan oleh suara hp ku yang berbunyi, tanda ada telpon masuk, dan itu telpon dari atasanku pak Hamdan "Halo deka, lu dimana??, Kekantor bisa ga dek? Ada hal yang perlu managementย sampein ke lu urgent" ucapnya dengan logat Betawinya yang kental.
"Ok pak, lagi dibengkel, meluncur nih" balasku "Rada cepet ya dek, gw tunggu" Tanpa pikir panjang, daripada menunggu mobilku aku memesan ojek online.
Sesampainya di kantor aku langsung menuju ke ruang atasanku tersebut * "Permisi pak Hamdan" "Oh iya deka, masuk aja" Aku pun masuk dan dipersilahkan duduk olehnya "Ada apa ya pak, kok penting banget kayanya" "Deka, gw mau ngomong sama lu, tapi ini adalah kebijakan management ya dek, bukan dari gw, sebagai atasan gw cuma dapat mandat buat nyampein ke lu" "Jadi gini dek, lu harap jangan kaget ya.
Management udah ga bisa lagi beroperasi dengan lancar, nasabah kita banyak yang cabut, kerja kita kurang optimal dek selama pandemi, terpaksa perusahaan memutus kontrak beberapa karyawan, dan itu salah satunya kamu" Seperti disambar petir disiang bolong, spontan aku menyahut omongan pak Hamdan itu "Wah memang salah saya apa pak, kok harus saya yang harus di korbankan??" "Lu gada salah dek, justru lu yang gw anggep lu paling berpotensi berkarir lebih daripada bertahan di perusahaan yang sedang labil seperti ini, tapi tenang dek ini ada sedikit pesangon buat lu, gw tahu itu gaakan cukup buat memenuhi kebutuhan keluarga lu, tapi seenggaknya dapat membantu lu sebelum lu dapet kerjaan lagi" pak Hamdan sambil menyodorkan amplop kepadaku "Oke pak, gapapa, saya rasa cukup ya pak, saya permisi" jawabku ketus sambil menerima amplop tersebut Tidak menunggu lama aku pun pergi meninggalkan tempat kerjaku yang sudah aku tempati 7 tahun ini, bahkan aku sudah bekerja disini sebelum aku berpacaran dengan Devi istriku.
Aku langsung kembali kebengkel dan membawa mobilku pulang, hatiku benar benar kacau saat itu, semua serba mendadak begitu saja, aku mampir di kedai kopi dan merenungi nasib sial yang menghampiriku ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, aku bergegas pulang.
Sesampainya dirumah aku lihat mba Ririn sudah pulang dan bersama adik ipar perempuannya, aku hanya menyapanya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Kejadian siang tadi membuatku benar benar terpukul, aku males mau ngapa ngapain.
Hingga ada chat dari istriku yang menunjukkan hasil periksanya beberapa hari yang lalu sebelum berangkat ke luar kota.
Ya sebuah hasil pemeriksaan yang menunjukkan bahwa istriku mengalami gangguan dalam rahimnya dan mengharuskan dia untuk dioperasi, namun resiko dibalik itu adalah istriku tidak akan pernah bisa hamil.
Dan hasil ini benar benar membuatku semakin jatuh dan hancur.
Aku benar benar tidak bisa berbuat apa apa lagi, hingga saat telpon pun terdengar suaranya yang sesenggukan menahan tangisnya meminta maaf kepadaku.
Aku jelas tak bisa menyalahkannya, ini sudah takdir.
Aku hanya berpesan kepadanya untuk selalu hati hati dan jangan merisaukan hal itu, meskipun aku sendiri merasa jatuh sejatuh jatuhnya selama seumur hidupku.
Namun itu tidak ada apa apanya setelah devi istriku ternyata menyembunyikan semua ini selama beberapa bulan terakhir, dia sudah tahu hal ini sebelum kami periksa ke dokter kandungan.
Devi mengaku bahwa dia didesak bapaknya untuk menyampaikan hal ini padaku dan meminta kami berdua berpisah.
Ya dari awal ayahnya Devi memang tak suka denganku, dia menganggap pekerjaanku tak sepadaan dibandingkan dengan Devi, dia merestuiku karena saat itu ibu mertuaku sangat mendukung pernikahan kami, namun semenjak ibu mertuaku meninggal, ayah mertuaku ini terlihat jelas tabiat aslinya.
Aku membujuk Devi, tak masalah dengan kondisinya ini, namun Devi tak berani lagi membantah ayahnya.
Dia lebih menuruti apa kata ayahnya daripada kata hatinya, aku tak bisa lagi menghalangi nya karena aku berprinsip tak ada gunanya aku memaksakan kehendak kepada orang yang tidak mau aku kehendaki, dan keluarga Devi secara sepihak memutuskan untuk menceraikan aku.
Dan semua ini hanya diomongkan via telpon, mereka tak mau aku ajak ketemu langsung.
Gila dan benar benar gila.
Aku tak habis pikir karir dan rumah tanggaku hancur dalam sekejap mata.. Setelah itu aku terlelap di sofa ruang tamu, dengan menahan tangisku, mengahan tangis seorang pria yang hancur hatinya.
Ber
Sumber:Internet