. Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami.
Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nih, aku kasih foto Sandy dulu👆sebelum keributan dimulai✌ *** Hilman Swardi Sagarmatha 'POV Kami sudah selesai menyusun rencana sejak setengah jam yang lalu.
Aku masih menatap datar lelaki yang Eryana sebut sebagai teman kecilnya.
Hufftt, bahkan lelaki ini tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.
See! Lebih keren aku kan?! Aku memalingkan muka ke arah lain, membiarkan Eryana yang masih menggenggam tanganku, seolah takut terjadi apa-apa padaku.
Padahal dua hari yang lalu, psikolog mengatakan kalau trauma ku sudah sembuh.
Meskipun belum sembuh total, sih.
Tapi setidaknya, aku sekarang sudah bisa beradaptasi dengan tempat ramai.
Ya, semoga saja selamanya seperti ini.
Agar aku bisa mengantar Eryana ke mana-mana tanpa takut trauma itu terus menghantui.
Ah iya, memangnya wanita di sampingku ini sudah mengetahui Agoraphobia yang ku idap? Bisa-bisa nya aku berkata demikian, percaya diri sekali! "Jadi aku panggil kamu pakai embel-embel apa nih?" Tanya lelaki berambut blonde yang masih menatapku kesal.
"Panggil 'Bang' aja.
Seperti teman-teman kami yang lain.
" Sahut Eryana karena aku malas berbicara.
Kurasa, Sandy mencoba akrab denganku.
Tapi aku tak bisa, kekesalanku masih ada.
Hm, perasaan kesal macam apa ini? Tidak biasanya aku memendam kesal kepada orang lain hingga lebih dari tiga hari.
"Mas.
Kamu nggak papa kan?" Aku yang tadinya ingin menyedot jus melon, langsung menoleh ke arah Eryana.
Raut wajahnya begitu khawatir menatapku.
"Saya nggak papa, Na.
Memangnya, apa yang sedang kamu khawatirkan sama diri saya?" Tanyaku.
Pasalnya, aku belum cerita ke wanita ini perihal traumaku.
Ingin cerita, tapi aku tak pandai merangkai kata sepertinya.
Sejak kejadian dua puluh dua tahun yang lalu, aku sudah tidak pernah percaya lagi untuk bercerita kepada siapa pun.
Kecuali ibu.
Eryana terlihat ragu untuk bertanya, kutatap mata bulatnya yang menggemaskan.
Jujur saja, aku selalu ingin mengecup kedua matanya.
Mata yang selalu membuatku tenang saat ketakutan.
Percaya atau tidak, aku selalu mencuri-curi pandang ke arahnya saat di rumah, di sela-sela aku bekerja.
Ssstt! Jangan bilang ke Eryana! Aku malu! "Kenapa, hm?" Tanyaku lagi.
Kali ini aku sudah memutar tubuhku untuk berhadap-hadapan dengannya.
Eryana tergagap saat mataku terus menelisik dirinya.
"Nggak tahu kenapa, tiba-tiba perasaanku nggak enak, Mas.
Kita pulang aja, ya.
" Aku reflect mengusap kedua bahunya lembut.
Kurasa, ia sedikit merasa lelah karena kegiatan semalam.
Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Aku hanya bermain-main dengan istriku.
Ah yeah, istriku.
"Ya udah, ayo pulang.
" Ucapku.
Eryana tersenyum lebar.
Ia berpamitan kepada Sandy.
Baru saja kami bertiga bangkit dari duduk.
Tiba-tiba seluruh pelanggan resto berlarian keluar, beberapa di antaranya sempat menyenggol tubuhku hingga aku hampir terhuyung.
Untung saja ada Eryana yang sigap menahan tubuhku.
Sumber:Internet